Mungkin tulisan yang kali ini tidak akan ada hubungannya dengan KROMA, paling cuma karena aku adalah salah satu orang yang ada di rumah ini saja. Buat kamu yang kenal aku, pasti tau banget kalo aku ceriwis, cerewet, atau ngomul alias ngomong mulu, whateveryou name it. Aku suka cerita and I don’t mind if I have to tell you so many times. Tapi untuk kamu yang belum kenal aku, I start to write and I bet you will know me by my writings.

Sesuai janjiku di Instagram beberapa hari yang lalu, tulisan ini adalah pandangan pribadiku tentang self-love. Mungkin tidak secara literal aku membahas soal mencintai diri sendiri, namun tentang self-acceptance yang berarti penerimaan diri. Boleh setuju, boleh ada yang tidak setuju.

Kalau berbicara tentang hal ini paling mudah jika disangkutpautkan dengan fisik. Ketidaksimetrisan bentuk wajahku juga aku anggap sebagai kekurangan. Tulang rahangku yang kiri dan mataku yang kanan lebih besar dari sebelahnya, adanya kerutan di bawah mataku sejak aku SD, kupingku agak caplang, kuku dan jari-jariku tidak lentik seperti perempuan kebanyakan, dan siapapun juga tau kalau aku sangat kurus, bahkan cenderung kerempeng. Apakah itu benar-benar penting ketika aku bersyukur bahwa semuanya masih lengkap? Tidak, aku rasa.

If I may describe myself in 3 words, it would be “An imperfect perfectionist”.

Perfeksionis banget? Iya, banget! I try hard to be perfect, that what makes me perfectionist. Tapi di dunia ini siapa yang sempurna? Jawabannya tentu saja tidak ada.

Aku mulai menulis sejak SD, saat itu yang kutulis adalah buku harian. Tapi buku itu tidak akan pernah penuh karena aku selalu menyobek kertas yang sudah kutulis. Aku tidak suka dengan tulisan dan cara menulisku. Begitu pula pada jamannya Blogspot, saat aku SMA dan kuliah, aku selalu menghapus post sebelumnya dengan kegelisahan yang sama.

I see the detail as big as the globe. Aku seorang desainer grafis, aku akan ‘selesai’ mendesain sampai hasilnya sempurna menurut versiku. Misalnya kalau soal design, untuk membuat bidang lingkaran saja aku harus tau jelas berapa ukurannya dalam cm atau px, atau perbandingannya dalam 1 lembar A4. Dan soal text alignment, aku akan memilih justified supaya paragraf rata dan rapi di kedua sisinya. Soal photography, objek harus ditempatkan tepat di tengah atau sepertiga bidang. Dan yang terakhir soal writing, aku suka tulisan berima karena rhyming is good-looking. Hmm, mungkin masih banyak ‘terakhir-terakhir’ lain yang tidak akan ada akhirnya.

I put my whole heart doing things that I love. Aku bisa menghabiskan waktu 3 jam untuk menentukan warna pink yang sesuai atau seharian hanya untuk mengubah layout sampai proporsional. Bahkan untuk tulisan ini saja aku butuh berhari-hari untuk melesaikannya. Sebenarnya aku bisa saja menyimpan lebih banyak energiku untuk mengerjakan pekerjaan berguna lainnya dibanding memenuhi egoku semata. Justru kalau tidak meribetkan diri, I don’t feel all out. Hubungan antara pikiran dan perbuatanku itu love-hate relationship. I feel happy and crazy most of the time.

Aku lulus tahun 2012 dari jurusan Desain Komunikasi Visual di Universitas Bina Nusantara. Dunia perkuliahan mengajarkanku banyak hal yang membuatku merasa bisa mengerjakan semuanya. 4 tahun kulewati dengan sangat mudah dan bisa kubuktikan lewat beasiswa yang kudapatkan. Aku tidak pernah gagal sampai harus ikut semester pendek (untuk mahasiswa/i yang mengulang). Ketika aku berada di dunia kerja, jiwa kompetitif itu muncul secara perlahan. Then I realized the worst nature I have is: ‘orang lain bisa apa, gue juga harus bisa’.

Namun, aku mengalami kegagalan ketika menjalankan usaha sendiri.

(Cerita panjangnya akan aku tulis di tulisan lain, tentang “Kisah Kasih KROMA”.)

Aku dan partner-partnerku membangun KROMA dari nol. Saat itu kami masih mencari jati diri KROMA. Di pikiranku, KROMA harus bisa dimanfaatkan jadi apapun dan harus masuk ke semua bidang. Lagi-lagi karena pikiran ‘bisa segalanya’, saat itu aku coba menjalankan semua, tapi karena alasan yang sederhana, karena aku tidak bisa memilih apa. Pikiran yang cukup naif saat itu melihat banyak keterbatasan di rumah lama. Ditambah lagi, kami tidak punya pengalaman di bidang food and beverage.

Aku berada di titik terendah di umur seperempat abad saat itu. Waktu dimana aku tidak bisa menerima kegagalan dalam diriku. I was desperate. Aku sangat suka bekerja, tapi betapapun aku berusaha, usahaku berakhir sia-sia. Jelas hal ini membuatku merasa sangat tidak berguna. Bahkan dukungan dari teman-teman lewat begitu saja. Aku menutup mulut rapat-rapat dari kedua orang tua. Aku memilih untuk berdiam diri, sambil terus membenci diri sendiri.

Untungnya aku punya partner, seorang Edward, yang tidak pernah putus asa. Edward selalu mengingatkan aku untuk tidak lupa menjadi diri sendiri dan meyakinkanku bahwa “proses itu kunci untuk sukses”. Kalau dulu, menurutku Edward hanya mengumbar janji, tetapi kali ini, dia menunjukkan kepadaku sebuah bukti.

Setelah beberapa tahun pencarian, akhirnya aku menemukan bahwa aku suka membangun sesuatu. I love creating something creative, which is none other than crafting. Crafting is kind of a therapy for me, 1. to fulfill my passion for sure, and 2. mostly, to exercise my patience. Aku butuh kertas putih untuk menuangkan tinta dan untuk itulah KROMA ada.

Sekarang ini aku lebih bisa menerima diriku apa adanya. Aku harus bisa berfikir bahwa segala kekurangan yang aku miliki adalah kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Di setiap momen aku belajar, karena pada akhirnya, apa yang menjadi cita-citaku adalah ketika aku bisa berbagi dan menginspirasi lewat cerita-ceritaku.

From scale 0 to 100, how much do you love yourself? I used to hit the number zero. But since I made peace with myself, it’s slowly growing day by day. Is there any one of you have the problems like mine? Please share the beautiful story of yours!

I shared stories and give my babies away! As you know, I printed the fabrics from my last 3 girls illustration. Since they’re not for sale, but I want everyone to have it, cerita yang paling menarik akan aku kirimkan 1 dari 3 ‘My Girls’ scarf sampai tanggal 15 Juli 2018. Let’s inspire and be inspired!

Love, Evelyn ♡♡♡

Posted by:Evelyn Gasman

Evelyn Gasman (@evelyngasman) adalah kepala dari KROMA Kiosk dan Klass. Orang yang suka kerajinan tangan, entah karena kerajinan, atau emang rajin beneran. Dia selalu senang bekerja di bidang kreatif. Dia merangkum kesukaannya dalam ABCD (art, branding, craft, dan design). Kerjaannya selain berkerajinan adalah mengurusi urusan produksi KROMA Kiosk dan Klass.

5 replies on “Mencintai Dimulai Dari Diri Sendiri

  1. Akhir tahun 2013 aku dan teman-temanku harus berhenti dari sebuah TK. Dari situ kami berpencar dan saling menemukan tempat kerja baru masing-masing. Di saat itu aku mempunyai panggilan hati untuk membuka sebuah TK atau minimal tempat les. Di tahun 2014 saat ada bazzar di sekolah ada yang menjual buku anak-anak. Sebagai pecinta buku dan aku tahu sekali buku anak-anak itu mahal! Langsung aku borong semua buku yang ada disitu. Total ada 10 buku yang dijual satuannya seharga seribu rupiah. Gila! Heaven banget lah saat nemuin itu. Aku berfikir kalau mau memulai sesuatu itu harus dicicil dari hal-hal kecil seperti halnya dengan memiliki buku-buku terlebih dahulu untuk anak didikku nanti. Sempat 2 tahun buku tersebut mendiami laci meja kantorku begitu saja. Sambil sesekali ku lihat dengan tatapan nanar dan bergumam dalam hati, “Suatu saat nanti pasti bisa membangun taman kanak-kanak. Kalaupun tidak bisa membuka tk/tempat les, nanti bukunya biar kubaca bersama anak-anakku kelak”. Saat itu aku masih suka negatif dan pesimis. Aku yang cenderung introvert dan sulit berkomunikasi panjang lebar dengan orang lain. Namun sedikit demi sedikit aku belajar untuk mencintai diriku sendiri. Because if we are not loving ourselves, then who else? Aku belajar apa yang menjadi kekuranganku selama ini. Mencoba membuka percakapan dengan orang terlebih dahulu, meski ujung-ujungnya aku yang lebih banyak mendengarkan daripada berbicara lebih. Hehee.
    Hingga di tahun 2016 aku dan kedua temanku memulai membuka tempat les di rumah teman. Kami promosi tempat les kami di pasar pagi. Tau kan pasar pagi? Tempatnya di pinggir jalan dan tidak jarang pula kami dapat tempat di pinggir kali. Alhamdulillah… hasilnya? hanya dua orang hingga saat itu tinggal satu yang tersisa. Sampai akhirnya teman kami yang rumahnya kami jadikan tempat les tersebut harus ikut suaminya ke Malang. Di awal 2018 kami keukeh tidak mau tempat kami tutup. Kami harus cari tempat baru. Aku dan temanku mencari kontrakan yang kondusif dan marketnya cukup bagus untuk menggaet peserta didik. Kenapa kami keukeh untuk tetap buka? Karena kami ingin ilmu yang kami punya dapat bermanfaat bagi orang lain dengan harga yang terjangkau. Terutama anak yang kurang beruntung yang di sekolahnya tidak menerapkan cara belajar yang fun atau metode montessori. Dimana anak dilibatkan dalam proses pembelajaran. Saat ini peserta didik kami ada sekitar 5 anak. Memang masih jauh dari kata banyak, namun aku sangat menikmati prosesnya. Dan yang terpenting bersyukur pada Tuhan. Karena kalau kita tidak mampu bersyukur dengan yang sedikit, bagaimana kita mampu bersyukur dengan yang banyak?
    Tuhan memang sangat baik pada hambanya.. Ia mendengar setiap doa bahkan lirihan kecil hambanya yang sangat pesimis saat itu. Bagaimana tidak bersyukurnya aku, dari murid yang sangat sedikit hingga kini ada sekian anak dengan tempat yang kondusif. Segala letih dan usaha Tuhan bayar seketika. Tidak ada yang instant. Semua butuh usaha, butuh kerja keras, kemauan yang kuat, diiringi doa. Do the best and let His miracle works 🙂

    Salam
    Andita Radianti 🙂

  2. Halo kak Evelyn. Aku ngerti kak rasanya harus berhadapan dengan kekurangan diri sendiri, karena akupun masih struggle untuk mencintai diriku sendiri sampai saat ini. Sejak aku kecil, SMP tepatnya, aku sudah sangat tidak pede dengan diri sendiri. Mukaku berjerawatan parah dari SMP disaat semua teman-temanku mukanya sangat normal dan halus. Aku berkacamata dengan minus 4 saat kelas 4 SD dan saat ini sudah minum 7. Aku bukan orang yang pintar, dalam artian aku iri dengan temanku yang tanpa belajarpun dia bisa jadi juara kelas. Tapi bukan berarti aku tidak berusaha dalam dunia pendidikan, malah aku berjuang keras tidak tidur kalau mau ujian jadinya aku bisa dapat nilai bagus. Aku percaya semua orang ada kelemahan dan kekurangannya sendiri, dan secara personal aku mengerti diriku yang lambat dalam pelajaran sehingga aku berusaha keras mengejar ilmu dan nilai dibangku pendidikan. Itu berlangsung sampai hari ini. Tapi aku sadar sampai saat ini aku masih tidak mencintai fisikku seutuhnya. Dulu ada teman SMA yang mendekatiku, kami sekelas, dan memang aku sangat menyukainya. Tapi saking tidak pedenya aku, dan bukan naif, saat dia mendekati aku, aku malah menjauh. Aku memandingkan diriku dengan mantannya yang jauh lebih menarik, hingga aku merasa tidak layak dicintai dengan fisik seperti ini. Hingga sekarang aku hanya bisa memendam cintaku kepadanya. Hal terparah dari tidak mencintai diriku adalah aku mengidap Anoreksia. Aku bukan tidak menyadarinya, tapi aku menyangkalnya. Hal ini dimulai dari kelas 2 SMA (aku memang tinggal dikosan jadi orangtua tidak bisa sering memantauku), aku hanya mencoba tidak makan nasi dengan alasan “COBA-COBA” saja. Eh tau-taunya keterusan hingga aku merasa bersalah kalau makan nasi. Semakin lama semakin ekstrim, saat kelas 3 SMA, aku benar-benar tidak mau menyentuh makanan, aku hanya makan makanan ringan dan minum susu. Aku puas dengan tubuhku yang sangat kurus kering. Makin parah saat kuliah, kalau ada yang mengatakan aku gemuk-an, aku sangat stress parah. Aku takut memiliki tubuh gendut. Aku takut tidak disukai pria. Aku sadar sekali kalau wajahku tidak menjual, tapi aku akan pede kalau tubuhku indah di depan pria. Aku bisa pakai baju ukuran yang sangat kecil, dan aku sangat bangga dengan itu. Alhasil siklus menstruasi aku tidak lancar dan rambut aku rontok parah. Sehari-hari aku hanya makan gorengan (tempe dan tahu goreng di warung). Dan kembali lagi kalau ada yang bilang aku gendut, aku akan tidak makan 2 hari. Memang aku menderita awalnya, sangat kelaparan, tapi lama kelamaan aku senang dengan rasa sakit dan kelaparan itu. Rasanya aku seperti ingin membunuh diri sendiri. Tapi itu yang kurasakan sampai bulan kemarin. Aku kuliah di Cikarang, tetapi saat ini (semester 9) aku harus menjalani program magang di Jakarta. Aku tinggal dengan keenam sepupuku. Mereka otomatis memaksa aku makan, apalagi ada 2 yang menjadi dokter, saat mereka melihat aku tidak makan, mereka akan menasehati, sampai kuping jadi panas. Akhirnya aku makan nasi lagi! Bagaimana rasanya? SAKIT! Aku berkelahi dengan jiwaku sendiri. Jiwaku mengatakan aku jelek! Aku sangat jelek dengan perut buncit! Tidak ada yang akan menyukaiku! Tiap hari aku harus mendengar itu, dan rasanya tidak diterima oleh jiwa sendiri, sangat sakit. Sampai suatu hari, (bulan kemarin), aku bangun tidur dan mau mandi. Otakku seperti berbisik : Mil, kamu mau gini terus sampai mati? Mau tahan lapar dan dianggap aneh karena tidak makan? Orang-orang kok bisa bahagia dengan makan? Kok kamu gak boleh? Siapa mil yang akan cinta sama kamu, kalau bukan dirimu sendiri? Ayo bahagia, cintai tubuhmu. Halus banget. Mau nangis aku, aku tiba-tiba sadar. Berapa tahun aku habiskan dengan menyiksa tubuhku? Kalau mau dihitung sejak dari 2 SMA sampai tahun sekarang itu ada total 5 tahun. Aku benci dengan pipi chubby, perut buncit, timbangan, lengan besar, paha besar, sehingga aku selalu berkaca dan mengontrolnya. Sekarang aku mau bahagia. Aku mau mencintai tubuhku. Memang sulit, tapi sampai sekarang aku belajar. Kalau tiba-tiba aku tidak ada niat untuk makan, aku paksa untuk beli makan dan makan dan menikmati makananku. Benar, mencintai diri sendiri itu harus diusahakan setiap hari. Harus dipraktekkan setiap hari. Ini cerita ku. Terima kasih sudah boleh sharing 🙂

    Salam Manis,
    Emily Emanuela @edelweissmily

  3. Hai.
    Self love.

    Satu hal yang menurut gue sebuah longlife learning. Gue gatau udah sampe tahap ini atau belum. Tapi yang jelas, issue ini menjadi batu sandungan dalam beberapa fase kehidupan gue akhir-akhir ini. Terlahir di bulan juli dan menyandang zodiak Cancer beserta semua traitsnya, gue sangat gampang terpengaruh dengan opini orang lain. Meskipun deep down inside gue punya keyakinan bahwa prinsip gue adalah yang terbaik buat gue. Sayangnya, seringkali gue kemakan opini society yang mengakibatkan gue menyakiti diri gue sendiri dari yang seharusnya dan worse, gue menyakiti orang-orang yang gue sayang di sekitar gue.

    Percaya sama diri sendiri menurut gue adalah salah satu bentuk self love.

    My life was an complete rollercoaster this past 10 years. Gue pernah mencintai seseorang, terlalu devoted sampe gue lupa ngurus diri sendiri, nilai kuliah anjlok, mostly society menganggap gue bego karena hal itu. Sampe disatu titik gue sadar, setelah 4 tahun dan sepanjang masa kuliah gue bahwa gue benar2 lupa untuk at least memikirkan diri gue sendiri. Memang sih semua yang gue perjuangkan untuk orang itu selama 4 tahun (mungkin dan semoga) ngga sia-sia, tapi disisi lain gue cukup menyesal kenapa gue harus butuh waktu sangat lama untuk menyadari bahwa sebenarnya harga diri gue diinjak-injak hahahahhaaha.

    Satu step terlewati. Lepas dari itu semua gue menjadi cukup fokus dengan apa yang menjadi “panggilan” gue. Nilai kuliah membaik dan hubungan gue bersosial di kampus pun membaik.

    Proses berikutnya adalah gue ketemu dengan orang yang sangat percaya bahwa gue adalah orang baik dengan segala kekakuan yang gue punya. And this is my biggest lesson. Dari awal gue sudah punya feeling yang tepat dengan dia. But then gue masuk ke society baru, kantor baru. Semua hal baru gue lewati bersama (masih) kantor gue ini. Principal gue sangat mengapresiasi roots dan kepribadian gue yang menurut society terlalu sensitif. TAPI i got carried away. Semua statement principal gue ini seakan menjadi sabda mutlak dan membuat gue memaklumi akan sifat jelek gue yang lagi merasa gue adalah center of the universe. Ketidak seimbangan kembali menjajah gue dan lagi-lagi hubungan gue dengan society diluar lingkungan kantor gue berantakan. Even my relationship with that someone special.

    Dari dua kasus di atas gue belajar untuk lebih banyak berdialog dengan diri sendiri dengan menulis, unpublished blog. Dengan menulis dan berbincang dengan diri gue sendiri itulah gue perlahan mulai belajar menghargai prinsip yang sudah gue pegang. Dan dari situlah gue belajar terus mengenai kekurangan gue dan berusaha memperbaiki diri. Over and over and over again.

    Dan dengan itulah gue mulai belajar untuk mencintai diri gue sendiri.

  4. Wah terima kasih untuk berbagi ini. Pas sekali, beberapa tahun terakhir ini isu yang lagi aku gali dan akhirnya mulai ketemu benang merah antara sebab – akibat dari hal-hal yang aku nilai ”buruk” di keseharianku.

    Tidak mudah lho untuk jujur ke diri sendiri mengenai perasaan buruk yang kita rasakan. Tapi lama-lama aku pelajari bagaimana melawan sesuatu kalau tidak tahu apa yang dilawan. Jadi memang harus AKUI ke diri sendiri dulu!

    ——

    Lalu, seiring waktu berjalan, lama-lama aku melihat dari sahabat, kerabat bahkan orang lewat, semua orang punya masalah yang sama dengan diri!

    Bahkan pernah di saat aku sedang merasa gelap, dan memandang seseorang terang, tiba-tiba dia mencurahkan kegundahannya. Bahkan, dia sampai berkata “masa depan gue gelap, nggak kayak lo yang masa depannya sudah pasti terang”. Perkataannya membuatku diam tertegun.

    Betul-betul semua orang! Jadi masalah dengan diri sendiri adalah HAL WAJAR, aku sedang belajar supaya perasaan ini tidak aku lebih-lebihkan. Kita bukan korban dari permasalahan yang kita hadapi. Semua orang punya masalah yang berbeda-beda, semua orang merasakan masalah dengan diri sendiri! Faktanya seperti itu 🙂

    Malah aku jadi belajar, MENGAKUI KETIDAKSEMPURNAAN adalah HAL YANG BAIK, kita jadi sadar untuk terus memperbaiki diri. Kita jadi bergerak maju. Sebaliknya, MENGAKUI KESEMPURNAAN adalah HAL YANG KURANG BAIK, kita jadi tidak tahu apalagi yang bisa kita perbaiki. Kita jadi diam di tempat.

    Baik, aku coba mulai MENGAKUI KETIDAKSEMPURNAAN aku juga ya (deg-degan menulis ini)…

    ——

    Jujur, salah satu isu besar yang aku sedang lawan adalah masalah SELF-WORTH / PANTAS DIRI. Usut punya usut ternyata penyebab ini sudah mulai dari masa kecilku, yang kalau ditelusuri lagi juga dari masa kecil orangtuaku sebagai lingkungan pertamaku.

    Aku lahir dari orangtua yang sama-sama sibuk berkarya, dan kariernya berjalan mulus, tidak seperti kehidupan berkeluarganya.

    Mereka datang dari latar belakang yang berbeda, Ibuku adalah anak seorang General Manager maskapai penerbangan nasional, tumbuh besar di negara yang berbeda-beda setiap tahun. Keluarga Kakek – Nenek dapat dikatakan mendekati “SEMPURNA”. Kakek sebagai tulang punggung, Nenek sebagai ibu rumah tangga. Keluarga mereka harmonis, Ibuku sebagai anak tertua dari enam bersaudara selalu menjadi kebangaan Kakek, sering dipanggil “tuan Puteri”. Jika mereka keluarga kerajaan, peran Ibuku kurang lebih seperti “puteri mahkota”.

    Kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, Kakek meninggal ketika Ibu masih berusia 19 tahun dan adik bungsunya masih berusia 3 tahun. Ibuku yang saat itu sudah diterima di Universitas bergengsi di Amerika Serikat, terpaksa batal dan harus “naik tahta” sebagai tulang punggung keluarga. Ia bekerja keras di maskapai penerbangan asing, dengan jabatan yang jauh di bawah Kakek.

    Menginjak usia 20 tahunan, Ibu dan kedua adiknya mengikuti kontes kecantikan nasional, dan semuanya mendapatkan gelar: Puteri Persahabatan, Puteri Pariwisata, dan Juara Kedua di masing-masing tahun pemilihan. “SEMPURNA”!

    Sama seperti Kakek, karier Ibuku juga menanjak terus. Ia harus bekerja keras demi menghidupi Nenek dan adik-adiknya yang masih kecil. Fokus utama beliau adalah karier dan bagaimana dapat membahagiakan adik-adiknya. Singkat cerita, adik-adiknya berhasil lulus dari Universitas ternama baik dari dalam maupun luar negeri.

    Secara tidak sadar, terbangunlah pemikiran Ibu untuk selalu menjadi “SEMPURNA”. Sampai akhirnya bertemu dengan Ayahku.

    Ayahku malah tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Kakekku meninggal di medan perang, ketika Ayah belum genap berusia satu tahun. Nenekku juga membesarkan 6 anak seorang diri, hanya sebagai pedagang mentega dan madu di pasar tradisional Ambon. Nenekku selalu memakai kebaya Maluku, dengan Minyak Kayu Putih sebagai parfumnya 🙂

    Ayah terbiasa gigih, sepulang sekolah membantu Nenek mengepak mentega, juga menjualnya di sekolah untuk uang jajannya. Hingga ketika usia 18 tahun nekat merantau ke Jakarta, mencari pekerjaan. Ketika uang terkumpul, ia masuk ke Universitas, namun tidak diselesaikan karena nuansa politik pada saat itu, ia ikut demonstrasi tahun 1966. Kembali bekerja di perusahaan minyak nasional, dan memiliki karier yang bagus juga.

    Ayah berhasil membeli kendaraan, rumah, tanah dari jerih payahnya sendiri di usia muda. Bahkan ia membantu saudara-saudaranya dari Ambon untuk bekerja di Jakarta, membiayai tiketnya dan membuka rumahnya, bahkan sampai belasan orang tinggal dalam satu atap.

    ——

    Ayah dan Ibu bertemu ketika sama-sama sudah matang, egonya sama-sama tinggi. Apalagi melihat keberhasilan mereka, masing-masing sangat dipandang oleh keluarga besar, mereka selalu membantu keluarga besar yang kesulitan. Mereka sangat dihormati, yang otomatis turun juga ke kami bersaudara sebagai anak Ayah dan Ibu.

    Fokus utama mereka adalah karier masing-masing. Walaupun demikian, Ayah yang tidak pernah dimanja orangtuanya, sangat memanjakan anak-anaknya. Jika ayah ada rapat di Pondok Indah, kami dibelikan mainan bagus di Toys R Us. Namun, Ibu yang selalu dimanja orangtuanya, sangat keras kepada anak-anaknya. Walaupun ada mobil, kita harus belajar naik turun bus (yang mana Ibuku sendiri juga tidak terbiasa. Haha). Karena mereka sama-sama sibuk, kalau ada acara di sekolah, teman-temanku selalu ditemani orangtuanya dan aku selalu sendirian. Aku merasa tidak pantas dipedulikan.

    Secara finansial, Ibu lebih kuat. Secara tidak langsung Ibuku lah “kepala keluarga”. Maka, kami lebih sering dikerasi daripada dimanja. Ditambah bentuk sayang Ibuku kepada kami, ia menjadi sangat protektif (karena ketika muda, ia pernah divonis dokter sulit mempunyai anak). Kami dibatasi untuk pergi dengan teman-teman, tapi karena kesibukannya orangtua juga jarang menemani kami. Aku merasa tidak pantas ditemani.

    Sayangnya, saking besarnya pemasukan mereka pada saat itu, mereka tidak biasa membuat anggaran belanja, berapapun yang dikeluarkan pasti tetap ada sisa banyak sebagai tabungan. Beberapa tahun kemudian, tidak pernah disangka-sangka mereka kehilangan karier mereka. Uang tabungan mereka yang dulu tumpah ruah, lama-lama bocor untuk kehidupan sehari-hari.

    Ada masa-masa di mana kami tinggal di rumah besar, terlihat megah dari luar, tapi ternyata bergumul tidak ada makanan di meja makan. Haha. Walaupun berubah drastis, kekurangan finansial, Ayah dan Ibu tetap membantu keluarga besar. Terlihat baik, tapi menurutku kurang bijak.

    Dari kecil, aku jarang beli baju. Hampir semua baju-bajuku hasil kado, pemberian, bekas orangtua, dan lain sebagainya. Kalau aku kumpulkan uang jajan untuk beli baju sendiri, orangtuaku akan berkomentar “buat apa sih beli barang konsumtif? Saudara kita yang ini yang itu saja masih susah, bukannya bantu mereka”. Aku merasa tidak pantas untuk berekspresi.

    Ada masa ketika aku masuk SMA, Ibu tidak punya anggaran lagi untuk seragamku, karena sudah dipakai untuk membantu keluarga. Aku baru dapat seragam hanya sehari/ dua hari sebelum masuk sekolah. Di toko aku dapat yang sisa-sisa, ukurannya sangat besar untuk badan kurus dan kaki panjangku. Aku merasa tidak pantas diperjuangkan.

    Aku terlihat sangat culun, tidak percaya diri. Ketika tidak ada guru di kelas aku menjadi sasaran usil teman-teman sekelas, sampai si culun ini ditelanjangi, beberapa teman lelaki yang lebih kuat pernah menarik tanganku disentuhkan ke kemaluan mereka. Aku trauma ke sekolah. Aku merasa tidak pantas dihargai.

    Sampai di rumah, perasaan tidak pantas berekspresi itu berkembang. Pemikiranku saat itu, masih ada orang lain yang lebih menderita dariku, aku harus kuat. Aku tidak mau cerita ke Ibu (aku tinggal dengan Ibu), apalagi mereka sedang persiapan untuk bercerai. Sepulang Ibu bekerja, Ibu banyak bercerita tentang hari-harinya di kantor, termasuk kegundahannya dengan Ayah. Aku tidak mau menambah beban pikirannya. Ku tanggung semuanya sendirian. Luka itu terobati ketika Ayah dan Ibu memutuskan rujuk, walaupun tetap tinggal terpisah. Aku merasa pantas dicintai.

    Kejadian yang hampir sama ‘ku alami lagi ketika mau masuk kuliah. Aku berhasil meraih nilai tinggi saat saringan, mendapatkan potongan uang pangkal. Tapi mereka tidak punya anggaran puluhan juta untuk uang pangkal kuliahku. Padahal mereka baru saja menjual tanah mereka di luar kota bernilai ratusan juta, tapi 100% dialokasikan untuk menyelamatkan perusahaan saudara yang hampir bangkrut. Lagi-lagi, aku merasa tidak pantas diperjuangkan.

    Kali ini aku ungkapkan lukaku ke orangtua, dan akhirnya mereka mulai tersadar. Mereka berjuang sampai menggadai cincin kawinnya untuk cicilan uang kuliahku. Melihat kesungguhan mereka, luka itu terobati. Aku merasa pantas diperjuangkan.

    Bermodalkan baju-baju pemberian tadi, ketika masuk kuliah, penampilanku juga tidak sekeren teman-teman kuliahku. Ditambah mereka mempunyai talenta yang luar biasa. Aku merasa tidak pantas sebanding dengan orang lain.

    Aku kerap kali dikelitiki oleh mereka, dijahili juga dan lain-lain. Mereka menganggap mereka membully-ku. Tapi sungguh, aku tidak merasa itu bullyan. Justru aku melihatnya sebagai tanda kedekatan kami. Mereka juga sering kali mengkritisi tugas-tugas kuliahku. Aku tidak merasa dibully, malah aku merasa disemangati untuk memperbaiki karyaku.

    Sikap mereka sangat baik, dibandingkan apa yang aku alami di SMA. Jika di SMA aku trauma ke sekolah, di kuliah ketika libur aku sangat rindu kuliah. Kami jalan bersama keliling Jakarta, dihampiri ke rumahku di Bekasi, ke Bandung, ke Yogyakarta, dan lain-lain. Aku merasa sangat pantas dihargai.

    Namun ada masa aku sangat sensitif dengan becandaan mereka, terutama ketika ramai-ramai “menyerang”ku. Mereka bingung kenapa sikapku berlebihan sekali dengan becandaan yang bagi kebanyakan orang hal itu wajar. Mereka kerap kali bertanya “kenapa?”, “mengapa?”, “ada apa?”. Aku merasa pantas dipedulikan.

    Sayangnya, saat itu aku belum berdamai dengan sendiri. Berbagai perasaan tidak pantas itu aku sembunyikan, ingin dipandang sebagai seorang yang kuat. Semakin aku berusaha kuat, semakin aku terlihat lemah. Kuat seharusnya datang sendiri, tidak usah dibuat-buat!

    Akupun juga menanyakan hal yang sama ke diri sendiri. Sayangnya saat itu masih mencoba kuat yang dibuat-buat, becandaan yang ramai-ramai sebetulnya mengingatku ke kejadian di SMA, yang aku sembunyikan ke semua orang bertahun-tahun. Aku terlalu mencoba kuat! Kuat yang dibuat-buat!

    Aku berterima kasih kepada teman-teman kuliahku, kepedulian mereka membuka kunci hatiku untuk lebih jujur ke diri sendiri. Aku manusia biasa yang penuh kelemahan. Apakah memiliki kelemahan itu payah? TIDAK! Semua orang punya kelemahan! 🙂

    ——

    Semakin aku MENGAKUI kelemahanku sendiri, semakin aku menjadi kuat tanpa harus aku buat-buat.

    Aku mulai mengobati perasaan PANTAS DIRI tersebut, dengan BALAS DENDAM ke diri sendiri dan lingkungan pertama yang mengakibatkan ini, yakni orangtuaku sendiri. Entah baik atau jahat, aku punya cara tersendiri untuk balas dendam!

    Dulu, aku merasa tidak pantas dipedulikan. Jika dulu orangtua lain mengasihaniku yang tidak ditemani orangtuanya, sekarang aku bangga aku adalah satu-satunya anak di acara lanjut usia yang menemani orangtuanya. Aku BERDAMAI dengan diri sendiri, karena ternyata aku PANTAS!

    Dulu, aku merasa tidak pantas ditemani. Jika dulu doaku untuk diberikan setidaknya satu sahabat saja, sekarang aku bersyukur diberikan banyak sahabat. Malah mereka sangat berperan untuk pembentukan karakterku. Aku BERDAMAI dengan diri sendiri, karena ternyata aku PANTAS!

    Dulu, aku merasa tidak pantas untuk berekspresi. Jika dulu orang lain meremehkanku karena pakaianku yang jarang dibelikan orangtua, sekarang aku bangga dengan selera berpakaianku yang sering dipuji orang lain, dan tidak lupa juga sering membelikan pakaian untuk orangtuaku. Aku BERDAMAI dengan diri sendiri, karena ternyata aku PANTAS!

    Dulu, aku merasa tidak pantas dihargai. Jika dulu orang lain melecehkanku, bersikap kurang ajar terhadapku, sekarang aku tidak mau melecehkan orang lain dan bersikap kurang ajar terhadap siapapun sebelum ikatan suci. Aku BERDAMAI dengan diri sendiri, karena ternyata aku PANTAS!

    Dulu, aku merasa tidak pantas sebanding dengan orang lain. Jika dulu orang lain ku anggap sangat bertalenta, sekarang aku bangga karena orang lain juga menilaiku bertalenta, aku mengumpulkan prestasi dengan perjuangan. Aku BERDAMAI dengan diri sendiri, karena ternyata aku PANTAS!

    Dulu, aku merasa tidak pantas diperjuangkan. Jika dulu orangtuaku memprioritaskan orang lain dibanding kebutuhanku, sekarang aku memprioritaskan kebutuhan orang tuaku dahulu, jika ada lebih baru ku bantu orang lain. Aku BERDAMAI dengan diri sendiri, karena ternyata aku PANTAS!

    ——

    Sikap untuk MENGAKUI KETIDAKSEMPURNAAN ini juga ku bagikan ke orangtuaku. Jika dulu orangtuaku diambang perceraian karena mereka sama-sama mencoba kuat yang dibuat-buat, sekarang ku ajak mereka untuk TIDAK USAH JADI SEMPURNA!

    Akui kelemahan masing-masing, berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain, berdamai dengan kehidupan! Puji syukur, Ibuku sudah mulai menerapkan itu, dan hidupnya jauh lebih tenang dibanding dulu. Dari rumah tangga yang sangat berantakan, di tahun-tahun terakhir hidup Ayahku, aku menyaksikan sendiri Ayah dan Ibu menjadi pasangan paling romantis yang pernah aku lihat 🙂

    Setuju sekali dengan tulisan Evelyn. Aku selalu mempatri dalam hatiku “there is statement of ‘I M PERFECT’ inside ‘IMPERFECT’”

    Terlalu lelah untuk mencapai KESEMPURNAAN yang kita tidak akan pernah capai! Karena kita belum SEMPURNA, maka kita terus bergerak hidup memperbaiki diri.

    Bagiku, hidup yang SEMPURNA itu kalau kita tahu KETIDAKSEMPURNAAN kita 🙂

  5. Self-love? Bisa dibilang hampir setiap hari aku memang mecintai diri sendiri. Terus mencoba setia mencintai diri ini tepatnya.

    Entah karena terbiasa kemana-mana sendiri dan sulit mencari teman berbagi, hingga caraku sejak di sekolah adalah menerima diri sendiri.

    Tapi sejujurnya, aku tidak suka menerima diri ini apa adanya. Be the Best of Yourself, itu yang selalu aku tanamkan. Mengetahui apa kekurangan dan apa tujuanku mempermudah jalanku menuju “best” versiku. Mempermudah untuk instropeksi diri.

    Ya, harusnya semudah itu…

    Terima saja diriku yang memang sulit bergaul, lalu coba ubah dengan membuka pembicaraan bersama orang-orang yang kurang akrab bahkan asing.

    Terima saja diriku yang kadang mulai malas baca buku, lalu ubah dengan mencoba membaca lagi setiap pagi sebelum ke kantor (dan ternyata cuma bertahan beberapa hari saja).

    Terima saja diriku yang membereskan tempat tidur saja malas!! Padahal apa sulitnya sih beresin tempat tidur?

    Terima saja diriku yang katanya ingin konsisten dengan personal branding “Arti Makan” lalu tiba-tiba berhenti karena jenuh.

    Terima saja diriku yang skoliosis ini. Kalau bagian ini sebenarnya sudah aku terima setelah pertarungan dengan diri bertahun-tahun 🙂

    Terima saja diri ini yang suka menulis tapi sudah 2 tahun lalu berhenti (dan aku berterimakasih banyak berkat post ini akhirnya aku menulis lagi).

    Dan terima saja, sekarang diri ini sedang terjebak dalam rutinitas yang sangat tidak diinginkan.

    .
    .
    .

    Ternyata mencintai diri sendiriku baru sekedar menerima.
    Ketika ingin meng-upgrade diri padahal aku sudah tau tujuan-tujuanku apa, ternyata sulit.
    (Kalau kamu tanya tujuan dan dimana aku 10 tahun lagi, aku sedang berada di Iceland, bersantai menikmati indahnya pemandangan)

    Mencintaiku tidak ingin sebatas menerima. Terlalu lama pasrah dengan keadaan akan membuatku tidak lagi menerima diri ini.

    Hingga pada akhirnya aku mencintai diri dengan mencoba hal-hal baru. Membahagiakan diri dengan itu.

    Dan mencintai diriku tahap selanjutnya dimulai dari…

    Resign secepatnya, kembali ke tujuan awal, kembali ke kesukaanku (berkat salah kantor menyadari “I love design so much, I love create something new!”)

    Solo travelling tanpa guide. Lets get lost!

    Kembali mencoba bekerja untuk hal yang aku suka.

    Kembali membaca dan menulis lagi

    Dan terakhir, mencoba eksperimen baru di toko kepunyaanku.

    Setelah melalui cinta tahap selanjutnya, aku pasti akan mencari cara lagi untuk achiev more and more. Aku tidak mudah puas. Karena hal paling mendasar dariku adalah, orang yang tidak pernah puas dengan sebuah pencapaian.

    Setelah menerima, mari mengupgrade diri, lalu upgrade terus menerus hingga menjadi “Best” versiku.

    With love, Arti

Leave a Reply