Akhir tahun lalu, aku diajak oleh Sharon dari The Press Journal untuk berkontribusi dalam projek Start Now Planner. Planner ini ditujukan untuk teman-teman yang ingin membuat bisnis. Sharon melibatkan beberapa ladyboss termasuk Kak Nike dan Kak Mamir dari Living Loving.

The-Press-Journal-1

Buatku Start Now Planner adalah projek yang menarik. Di dalamnya ada 12 modul interaktif tentang hal-hal esensial yang harus diperhatikan sebelum memulai. Di sini, aku berperan sebagai homepreneur.

Seperti yang aku alami sendiri beberapa tahun yang lalu, tepatnya di tahun 2015. Aku dan beberapa temanku keluar dari kantor mereka masing-masing. Kami mulai membuat karya yang saat itu belum bisa dikatakan sebagai ‘bisnis’. Dulu kami sering sekali berkumpul untuk berbagi pengalaman kami sebagai amatiran. Kadang aku suka senyum-senyum sendiri kalau mengingat masing-masing dari kami memulai usaha kami dari rumah. Siapa sangka kalau sekarang ini kami sudah bisa menggaji orang lain?

Baik, aku akan menceritakan pengalamanku dari sini!

41416099_2258763127743772_7816399963651053507_n

Pertanyaan yang sering sekali aku terima adalah: Gimana sih lo bisa berfikir dan memutuskan untuk keluar dari kantor?

Aku dan Edward bersekolah di SMA yang sama. Edward sering mengajak aku untuk coffee shop hopping. Sebenarnya mimpi besar kami berdua adalah membuat sebuah kedai kopi. Aku dan Edward senang memperhatikan behavior orang-orang, berkumpul dengan teman lama, dan berkenalan dengan orang baru. Alangkah senangnya jika kami memiliki basecamp sendiri.

Saat itu aku masih bekerja sebagai art director di multinational advertising agency. Yang terlintas di benakku adalah membuat produk, karena untuk seorang yang masih bekerja di dalam sebuah perusahaan, —apalagi dengan gaji fresh graduate— membuat sebuah kedai kopi agak kurang masuk akal.

img_2214

Aku bekerja sebagai pekerja kantoran selama 2 tahun 3 bulan. Satu setengah tahun sebelum aku memutuskan untuk keluar dari kantor, aku mulai mencari nama, menyusun konsep, merancang brand, dan mencari referensi yang ternyata lebih menarik dari jobdesc yang diberikan oleh para account excecutive. Masa itu bisa dibilang aku berselingkuh dari pekerjaanku. Semakin hari, aku semakin pingin cepat-cepat keluar dari kantor. Aku sadar bahwa nekat bukanlah keputusan yang bijaksana. Ada banyak hal yang harus diperhitungkan supaya tidak menyesal setelah mengambil pertimbangan ini.

Setiap hari aku terus menanamkan kata-kata ini di dalam kepalaku: kamu harus tau apa tujuanmu, bagaimana kamu akan mencapai tujuanmu, apa yang harus kamu lakukan ketika menghadapi harapan yang tidak sesuai kenyataan, apa tips dan trik sehari-hari untuk menjaga semangatmu. Tentu kebutuhan finansial juga menjadi urusan penting karena hal ini yang akan menyokong kehidupan kita setelah tidak digaji lagi.

Dalam waktu sekitar 12-14 bulan terakhir, aku mengontrol keuanganku dengan memperhitungkan pengeluaranku setiap bulannya. Keuanganku harus bisa menutupi kebutuhanku selama setidaknya satu tahun ke depan. Akhirnya aku menyisihkan sebagian besar gajiku, mungkin sekitar 2 juta setiap bulannya, untuk aku masukkan ke dalam tabungan deposito ditambah dengan upah-upah freelance yang sudah dibayarkan oleh klien. Lebih dari cukup. Itu pun masih bisa aku gunakan untuk jalan-jalan. Jelas ditutup dengan kepercayaan diri, gak mungkin kan dalam satu tahun ke depan gak ada pekerjaan sama sekali? Hihihi

11017658_884647328300496_1473829971_n

12965808_1712875718990291_790870864_n

Aku sempat merasakan susahnya membagi badan dan pikiran ketika aku harus mencari tukang jahit, sedangkan pekerjaan di kantor masih menumpuk. Akhirnya tiba saatnya ketika tekatku sudah bulat dan tabunganku sudah cukup. Aku keluar dari kantor di bulan Maret 2015 dan Edward lulus kuliah di bulan Mei di tahun yang sama (iya, dia kuliahnya 7 tahun!). Di bulan Agustus, aku dan Edward menciptakan KROMA yang berupa desain produk dari rumah Edward—kami sebut sebagai ‘Studio Abu-abu’. Waktu itu produk-produk yang kami buat adalah daily essentials yang terbuat dari kertas sintetis.

Jujur, aku sangat menyukai dunia ahensi, orang-orangnya, pekerjaannya, pengalamannya, lembur-lemburnya, semuanya! Tapi tetap saja, keinginan untuk membuka usaha sendiri lebih besar dari segalanya. Apalagi keinginan itu sudah ada sejak aku duduk di bangku sekolah dan masa kuliah. Sayangnya berkali-kali aku membuat sesuatu, aku harus berhenti karena memang belum menemukan celahnya. Ditambah lagi, aku tidak mempuyai jiwa dagang, jadi sesimpel jualan saja aku tidak bisa hahaha

14099454_919575021488147_1445991670_n

Setelah berjalan sekitar 3 bulan, siapa yang menyangka bahwa kedai kopi yang kami idamkan sejak SMA terwujud dengan asupan dana dari beberapa teman terdekat. Akhirnya, aku dan Edward banting setir untuk menjalankan kedai kopi yang sudah ada di depan mata ini. Sesuai dengan prediksiku, selama satu tahun pertama, KROMA yang berupa kedai kopi ini belum bisa menggajiku. Aku harus mencari objek lain sembari menjalankan bisnis utamaku ini. Untungnya ada orang-orang yang mempercayai projeknya kepadaku. Sejak itu, aku bekerja secara lepasan sampai hari ini.

Menjalankan usaha di bidang apapun, tentu ada pasang dan surutnya. Balik lagi, aku bukan orang yang berjiwa bisnis sehingga aku tidak bisa bertahan pada titik terendah dan tidak bisa menghadapi keadaan beresiko. Berkali-kali aku berpikir untuk kembali lagi ke kantor, tapi tidak aku lakukan karena aku sangat menyukai keseharianku sekarang.

Asik ya, membayangkan manis-manisnya menjalankan usaha. Hehehe. Hey, jangan salah! Justru kamu akan bekerja lebih banyak, berdarah lebih banyak, belajar lebih banyak, dan kabar baiknya… Kamu juga akan bahagia lebih banyak pada akhirnya.

Makanya selama aku menjalankan KROMA, aku selalu menekankan pada #betahdirumah karena ada banyak sekali hal kreatif dan produktif yang bisa kita lakukan di rumah. Di seri tulisan “Bekerja dari Rumah”, aku akan berbagi tentang suka dukaku secara rasional dan emosional di dalam dunia ini. Dunia dimana aku belajar untuk konsisten dan berkomitmen kepada diri sendiri supaya bisa bertahan menghidupi diriku sendiri dan usahaku ini.

Aku juga ingin membaca sudut pandang kalian! Jadi jika kalian punya sesuatu yang bisa dibagikan di sini, silakan tulis di kolom komentar ya! Selamat membaca!

Posted by:Evelyn Gasman

Evelyn Gasman (@evelyngasman) adalah kepala dari KROMA Kiosk dan Klass. Orang yang suka kerajinan tangan, entah karena kerajinan, atau emang rajin beneran. Dia selalu senang bekerja di bidang kreatif. Dia merangkum kesukaannya dalam ABCD (art, branding, craft, dan design). Kerjaannya selain berkerajinan adalah mengurusi urusan produksi KROMA Kiosk dan Klass.