Siapa yang sedang berencana untuk bekerja dari rumah? Apakah kamu punya mimpi yang belum tercapai ataukah karena rutinitas pekerjaanmu lagi gak santai? Waktu dulu aku memutuskan untuk keluar dari kantor, banyak sekali yang mendukung, banyak juga yang bikin pundung.

Lo yakin sama usaha lo? Itu gak seberapa dibanding gaji yang lo terima di kantor loh!

…adalah sebagian kecil dari sekian orang yang meragukan keputusanku, termasuk orang tua dan tetanggaku. Di saat itu aku benar-benar dilema, memilih untuk menjalankan apa yang aku sukai atau menyukai apa yang harus aku jalani. Aku berperang di dalam hati kecilku.

Beberapa bulan sebelum aku meletakkan resignation letter di atas meja atasanku, setiap hari di dalam perjalanan menuju kantor, aku coba untuk terus meyakinkan diriku bahwa aku harus do what your love. Buatku, it will be happier to turn your passion into your profession. If you’re happy, the positivity will keep coming.

Then, what do you love?

36995025_472716619841961_3633686514468126720_n.jpg

Aku suka bercerita, aku suka berbagi, aku suka berkumpul dengan teman lama, dan aku suka bertemu dengan orang baru, itu sebabnya dari dulu aku dan Edward berencana untuk membangun sebuah kedai kopi kecil. Tujuannya cuma satu: punya tempat nongkrong sendiri yang di dalamnya harus ada kebersamaan. Terwujud.

Tapi ternyata itu saja tidak cukup. Walaupun dengan langkah kecil, usaha ini harus bisa jalan. Usaha ini harus menjadi bisnis. Kalau tidak, tujuan kami tidak akan nyata dan hanya jadi mimpi belaka.

Seperti istilah yang baru aku tahu “Jack of all trades, master of none” dari livingloving.net dan byputy.com (bagian 1 dan bagian 2), mahkota ini diletakkan di atas kepala orang-orang yang memiliki banyak kemampuan, tapi tidak ada dari semua kemampuan itu menjadi sebuah keahlian yang spesifik. Jadi, pertanyaan dariku untukku tadi belum bisa aku jawab sampai beberapa bulan kemarin.

Dari masa sekolah sampai masa kuliah, aku selalu mendapat nilai yang cukup. Aku tidak pernah jadi superior ataupun inferior di kelas. Misalnya di dalam kelas ada 41 murid, sudah pasti aku peringkatku di tengah, yaitu ranking 21. Aku tidak memiliki masalah jika diberikan soal untuk memecahkan soal Matematika ataupun menyeimbangkan neraca Akutansi. Disuruh menghafal istilah-istilah Latin di buku Biologi atau Geografi, aku bisa-bisa saja. Dan selama menjalani masa perkuliahan, aku menguasai semua mata kuliah. Mendapat tugas ilustrasi, oke. Mendapat tugas fotografi, oke. Mendapat tugas tipografi, oke. Mendapat tugas manual ataupun digital, gak masalah. Semuanya aku lewati tanpa merasa terbebani.

Bekerja sebagai pekerja lepasan selama 3 tahun ini membuat aku jadi kerja serabutan. Kalau selama kerja di kantor dulu, titelku adalah art director. Terus kalau sekarang apa? Bingung. Memang tidak ada satu label yang bisa menggambarkan aku secara keseluruhan. Aku menyukai pekerjaanku yang beragam ini, karena aku bisa menyebut diriku sebagai graphic designer tapi juga bekerja sebagai marketing KROMA sambil creating event dan content. Aku juga orang di balik media sosial @kroma.id dan situs www.kroma.id ini, dari designing sampai copywriting. Di samping itu, aku juga suka menggambar dan mengerjakan kerajinan untuk mengisi kejenuhanku. Oh iya, aku juga sedang belajar menulis, menggambar, dan belajar bahasa Jepang. Sibuk, dan masih banyak kemauan lain, tapi tidak tahu juntrungannya mau kemana.

Succulent 3-3

Kalau dipikir-pikir, aku tidak punya keahlian yang benar-benar aku kuasai. Semua yang aku bisa itu ada di level yang biasa-biasa saja. Sampai akhirnya di dunia yang nyata ini, aku sendiri belum memutuskan apa yang sebenernya aku sukai. Kadang-kadang aku iri dengan teman-teman yang sudah melabelkan dirinya sebagai ilustrator, fotografer, blogger, dan lain-lain. Mereka bisa komitmen dan konsisten menjalankan rutinitas profesi mereka dengan terus melakukan pekerjaan itu berulang-ulang. Aku tidak bisa…

Melihat orang lain bisa apa, aku yakin aku juga bisa. Beda kan ya, sama seseorang yang bilang “Kalau orang lain bisa, kenapa kita harus bisa?” hahaha

Ketidakmampuanku dalam memilih apa yang aku suka bukan ‘indecisive‘, tetapi aku lebih sepakat dengan kata ‘free thinker‘. Aku suka belajar, apa lagi di bidang kreatif. Itu kenapa aku selalu excited mengerjakan hal yang baru sehingga aku kurang akrab dengan kata ‘fokus’. Ini yang mendorong aku berpikir kalau aku tertinggal dari teman-teman yang karirnya sudah jelas, sedangkan aku masih begini-begini saja—tentu kata-kata “begini-begini saja” menjadi toxic untuk pikiranku sendiri. Walaupun aku jadi terlihat tidak konsisten dan tidak komitmen dengan apa yang aku jalankan, there are things that can be learned on the other side, I’m so happy beyond that.

Dengan menyukai banyak hal, aku bisa nyambung sama orang-orang yang memiliki latar belakang lebih luas lagi. Dari sini aku bisa memulai obrolan baru dengan berbagi pengalaman kita masing-masing. Dengan menyukai banyak hal, aku juga menjadi orang yang sangat bisa diandalkan. Biasanya, dari satu projek berkembang jadi projek-projek lain yang berkepanjangan.

Kokonut 1

ddc9b911-1e97-4f10-97aa-81edefa3285e

Apa yang kami kerjakan di KROMA berdasarkan dari apa yang benar-benar kami sukai, kondisi yang membuat KROMA bisa bertahan sampai hari ini. Itu pun yang aku lihat di diri Edward dan Dinar. Edward adalah seorang arsitek yang juga coffee brewer dan roaster, dia menyukai hal-hal yang berhubungan dengan tumbuhan dan barang-barang antik. Dinar yang juga adalah seorang graphic designer memiliki hobi memasak dan juga berperan sebagai financial manager KROMA, dia juga bagian dari komunitas-komunitas Korea, Generasi Daebak dan Dizkorea.

Jadi jika kamu memutuskan untuk mengerjakan apa yang kamu sukai, kamu harus menyukai apa yang kamu kerjakan kemudian, di titik tertinggi maupun terendahnya.

Aku menyimpulkan kalau tidak ada yang benar ataupun salah dari love what you do atau do what your love, begitu pula dengan memiliki banyak keahlian atau satu kemampuan, dan sebaliknya. Pelajaran besar yang bisa aku ambil adalah kita harus menerima keadaan untuk menghargai proses ketimbang tau beres, karena kalau tidak sukses ujung-ujungnya kita pasti jadi stres. Dan setiap orang itu diciptakan berbeda, mengerjakan apapun yang kita suka bisa diukur dari takaran bahagia, asal semuanya bisa ditanam dari hati dan pakai rasa, pasti akan berbuah manis pada akhirnya.

It is okay to be yourself, not everything. Because it is still a blessing afterall.

Posted by:Evelyn Gasman

Evelyn Gasman (@evelyngasman) adalah kepala dari KROMA Kiosk dan Klass. Orang yang suka kerajinan tangan, entah karena kerajinan, atau emang rajin beneran. Dia selalu senang bekerja di bidang kreatif. Dia merangkum kesukaannya dalam ABCD (art, branding, craft, dan design). Kerjaannya selain berkerajinan adalah mengurusi urusan produksi KROMA Kiosk dan Klass.