Gold Coast

29 Apr Yang aku tahu, di Gold Coast ada banyak theme park seperti Warner Bross. Movie World, Sea World, dan DreamWorld yang sudah jelas tidak diminati orang tua-orang tua ini. Oh iya, kami sempat mencoba Jetboat Extreme. Bodohnya, aku masih mengantungi paspor dalam money belt. Dalam keadaan terombang-ambing di atas kapal dan terciprat air laut dari segala arah, aku hampir saja menghancurkan pasporku. Aku jadi tidak menikmati 1 jam di atas perahu jet itu padahal harusnya seru. Bodohnya!

Selain itu tidak ada yang begitu spesial di Gold Coast. Keluargaku banyak menghabiskan waktunya di casino, sedangkan aku memilih untuk leyeh-leyeh di penginapan… dan juga… mampir ke K-Mart. K-Mart bukan supermarket biasa, namun…

K-Mart adalah departement store yang menjual produk sehari-hari dengan harga yang relatif murah. Harga yang relatif murah ini aku bandingkan head to head dengan harga furnitur yang dijual di IKEA. Kategori produk yang dijual pun cukup luas, seperti pakaian (pria, wanita, dan anak-anak, bahkan hewan peliharaan), alat tulis, mainan, dan masih banyak lagi.

Deluca Property shoot by Carole Margand from Caco Photography

Rupa dan harga  barang-barang di sini sangat menggiurkan. Jantung aku otomatis deg-degan gak karuan sambil berhayal babu punya rumah pribadi. Mau tidak mau aku harus bisa menahan diri untuk tidak belanja banyak mengingat bagasi kami yang terbatas. Kebayang ya repotnya membawa lemari walaupun flat pack apalagi barang pecah belah sambil berpindah-pindah bandara? Di sini aku mendapatkan pengalaman pertama dalam self-service check out.

Back to reality, malam itu aku memutuskan untuk berpisah dengan keluargaku karena mereka akan melanjutkan perjalanan mereka ke Brisbane. Aku membeli tiket first flight dari Gold Coast menuju Melbourne. I was so grateful aku membawa koper kabin, I could keep moving from place to place tanpa perlu bagasi tambahan. Kali ini aku bisa menyeruput hangatnya kopi di pagi hari, menikmati keramaian sambil jalan kaki, dan mengunjungi toko buku sendiri, seperti yang aku dambakan beberapa hari ini. Excited!

IMG_4700-2

Banyak yang sudah meramalkan aku akan jatuh cinta pada Melbourne. Aku akui, mereka benar sekali. Kota ini membuat aku jatuh cinta tepat ketika aku menginjakkan kaki di tengah kota.

Kata orang, Melbourne adalah kota 4 musim. Kali ini aku mengalaminya sendiri. Setibanya aku di Melbourne, aku disambut oleh teriknya matahari. Padahal aku sudah pakai baju lengan panjang turtle neck berlapis jaket, terus tidak lama kemudian mendung dan cerah lagi, dan tiba-tiba gerimis. Aku jadi salah kostum deh hehehe

Perjalanan di Melbourne ini akan aku bagi menjadi 2 bagian yaaa…

Melbourne

30 Apr Sesampainya di tengah kota, aku langsung merapel sarapan dan makan siang di sekitar Central Station. Banyak kedai dan restoran yang bisa menjadi pilihan. Aku tidak kesulitan menemukan makanan yang cocok dengan lidahku di sini. Sebagai penggemar Asian foods, aku bisa dengan mudah menemukan Chinese, Japanese, Korean, dan Thai restaurant di setiap blok di kota ini.

Dari Central Station, aku berjalan mencari segelas kopi hangat sebelum menuju ke penginapanku. Aku melipir dulu ke Kinfolk Café yang terletak di 673 Bourke St. Awalnya aku kesulitan menemukan lokasi café ini karena sedang ada pembangunan di depannya. Aku duduk di dekat jendela menghadap luar sambil menikmati Hot Latte.

Ini adalah rumahku untuk beberapa hari ke depan. Letaknya cuma beberapa blok dari Melbourne Central. Dari beberapa pencarianku di Airbnb, apartemen kecil ini yang paling menyenangkan. Apartemen ini dilengkapi dengan 1 kamar tidur di atas, 1 toilet dekat pintu masuk, area makan, area duduk, dan dapur. Aku selalu suka dengan ruangan yang ber-mezanine dan yang paling menyenangkan untukku adalah kamar tidurnya terbuka dan yang menghadap jendela besar.

Setelah meletakkan koper, aku kembali ke Melbourne Central untuk mengunjungi stationery store favorit aku dari dulu Kikki.K. Who doesn’t love Kikki.k? Stationery store punya caranya sendiri untuk membahagiakan diriku.

Wah, akhirnya aku menemukan gunting yang mirip dengan Scissors Brass HAY. Lumayan lah!

IMG_4780-2.jpg

Di tengah toko-toko komersil, ada sebuah ruangan kecil yang dijadikan sebuah perpustakaan kecil, dimana kita boleh meminjam buku dengan kejujuran. Kita bisa mengembalikan bukunya dengan menukar buku lain supaya orang lain bisa menikmati buku-buku di sana. Hanya ada 3 tempat duduk di dalam, 1 bangku kayu, 1 sofa untuk 1 orang, dan 1 karpet kecil untuk berdua. Mungkin ini bisa jadi ide untuk Lemari Buku-buku dan Adopsi Buku? Hehehe

Sebelum mall tutup, aku mampir ke Dymock, toko buku yang kurang lebih mirip Gramedia. Koleksi bukunya beragam dan jelas saja aku terlarut di sini. Bahkan, buku-buku yang biasanya tidak jadi preferensiku, seperti buku self-improvement juga menjadi incaran.

Malam ini aku berencana untuk pulang lebih cepat biar bisa leyeh-leyeh di penginapanku tapi aku malah teralihkan dengan toko Bookbinder Design yang tidak sengaja kulewati. Bookbinder Design adalah perusahaan yang merancang dan memproduksi sampul untuk notebook, album foto, dan kalender. Di toko ini terdapat stationery lainnya.

Di antara semua jajaran notebook, lagi-lagi ada stationery yang tadinya ingin kubeli. Stationery ini adalah seri alat tulis XS (extra smallMidori yang mendapatkan penghargaan Good Design. Sebagai pemuja barang-barang praktis, aku harus bisa menahan diri sekarang. Belum aku beli saat ini karena alat tulisnya tidak lengkap.

Ah, senangnya melewati hari ini! Setelah lelah berjalan seharian, malam ini aku nikmati dengan menyantap mie instan Tom Yum yang kubeli di Asian Store di China Town sambil menonton Two and a Half Men sampai ketiduran.

01 May Pagi ini aku bangun jam setengah tujuh, ngopi dulu di Hash Specialty Coffee memesan croissant dan hot chocolate, pelan-pelan, sambil mikir hari ini mau kemana. Aku akan pergi ke beberapa tempat lagi sebelum keluargaku datang dari Brisbane besok pagi.

Hot Chocolate Hash Coffee
Sumber: http://www.tripadvisor.com.au

Aku mengunjungi Melbourne School of Design University. Desain bangunan universitas ini pernah masuk ke situs ArchDaily. Aku langsung tersadar ini adalah kampus jurusan arsitektur, karena ketika masuk aku disambut oleh panel-panel gambar kerja yang ditempel di dinding dekat pintu utama. Beberapa langkah kemudian aku melihat ada studio—atau lebih tepatnya kusebut sebagai ‘bengkel’—tempat para mahasiswa mengerjakan maket, dilengkapi dengan mesin laser dan mesin 3D printing di dalamnya.

Sumber: http://www.archdaily.com
Sumber: http://www.archdaily.com
Sumber: http://www.archdaily.com

Bangunan ini didominasi oleh kayu pada lantai dan dindingnya, tiap lantai diselimuti oleh wiremesh. Aku berjalan melewati selasar. Di lantai dasar, yang merupakan aula terbuka, terdapat banyak meja dan bangku tempat mengerjakan tugas di luar kelas. Menyenangkan dan sangat nyaman, ditambah lagi cahaya matahari menembus langit-langit bangunan.

Aku mengunjungi Mörk Chocolate Brew House yang letaknya agak jauh dari pusat kota. Mörk menjual minuman dari berbagai varian cokelat. Tempat ini hanya cukup menampung 12-15 orang. Di sini perintilannya unik-unik.

Setelah aku pesananku Dark Milk & River Salt 65% Cacao datang, aku baru sadar menu yang ingin aku coba adalah Campfire.

Hot Chocolate Mörk Chocolate
Sumber: https://www.theurbanlist.com

 

Ceritanya berlanjut di Melbourne #2 ya!

Posted by:Evelyn Gasman

Evelyn Gasman (@evelyngasman) adalah kepala dari KROMA Kiosk dan Klass. Orang yang suka kerajinan tangan, entah karena kerajinan, atau emang rajin beneran. Dia selalu senang bekerja di bidang kreatif. Dia merangkum kesukaannya dalam ABCD (art, branding, craft, dan design). Kerjaannya selain berkerajinan adalah mengurusi urusan produksi KROMA Kiosk dan Klass.