Ini adalah cerita liburanku sekitar satu tahun yang lalu. Setahun…? Iya. Dan… Baru membagikan cerita liburan setelah 12 bulan yang berlalu seharusnya sudah basi, namun semangat dari beberapa teman mendorong aku untuk tetap membagikan tulisan ini. Ternyata, aku selalu punya alasan untuk tidak menulis, salah satunya tentu saja kemalasan. Tapi setelah kupikir panjang, sayang kalau aku menyimpan apa yang sebenarnya bisa aku bagikan.

“Evelyn, kamu mau ikut ke New Zealand, kah?” kata mamaku di telepon. Tanpa tau tanggal keberangkatan, pokoknya aku langsung mengiyakan.

Image result for new zealand

Aku tidak pernah membayangkan di umurku yang ke-28 ini, aku akan melihat pemandangan seindah wallpaper, nyata dengan mata kepalaku sendiri. Aku pun berkhayal aku menghangatkan tubuhku dengan segelas kopi, sambil memandangi indahnya aurora di malam hari, serta menyalakan api unggun untuk menunggu pagi.

Beberapa hari kemudian, aku baru tahu kalau tiket yang dibeli adalah tiket dengan tujuan ke Australia. Tanpa sepengetahuanku, terjadi miskomunikasi antara mama dan tanteku yang membelikan tiket kami. Jadi impianku untuk roadtrip dengan campervan buyar dalam hitungan detik.

Lalu…?

IMG_4613-2

Persiapan

Jujur… Tidak ada sedikitpun di benakku mengunjungi negeri kangguru ini dalam waktu dekat. Tapi menjelang hari keberangkatan yang kami sudah semakin dekat, aku malah jadi seru sendiri karena aku memang senang meriset tempat-tempat tujuan dan memilih tempat penginapan. Aku dari yang tadinya gak kepikiran buat berlibur ke Australia, malah jadi gak sabar buat berangkat ke sana secepatnya.

IMG_4587-2.jpg

Tiket perjalanan ke Australia ini baru dibeli 3 bulan sebelum berangkat. Tapi karena kesibukan ini dan itu, aku cuma punya waktu 1 bulan untuk mengurus segalanya. Sisa waktu 1 bulan ini sebenarnya agak bikin deg-degan karena visaku belum diterbitkan. Untungnya sih semua lancar tanpa halangan.

Ngomong-ngomong soal barang bawaan, mom and I did light-packing and we are adaptable. Kami mudah beradaptasi dengan sedikitnya barang bawaan kami. Walaupun kami mendapatkan fasilitas bagasi dari Singapore Airlines, kami berdua tetap memperhitungkan berapa banyak barang bawaan supaya barang-barang yang tidak perlu tidak menjadi beban.

Kalau tidak salah waktu itu aku hanya membawa 2 luaran, 3 setel pakaian (1 setel = 3 atasan + 3 terusan), 3 pasang dalaman, 2 pasang kaos kaki, 1 pasang sepatu, 1 pasang sendal, handuk, dan tas perlengkapan mandi . Oh iya, sebagai makhluk iklim tropis, aku tertolong dengan eksistensi T-Shirt dan Legging Heattech1 Uniqlo.

Aku berbekal day bagbackpack, dan koper untuk perjalanan kali ini. Kabar baiknya, dengan barang bawaan yang relatif sedikit, aku masih punya ruang untuk belanjaan di dalam koper kabin itu.

IMG_4869-2

IMG_4867-2

IMG_4857-2

Soal penginapan, tentu saja Airbnb to the rescue! Aku mengenal Airbnb sejak tahun 2015 ketika aku dan Edward pergi ke Jepang. Berbeda dengan Jepang yang berupa guest house, unit di Sydney dan Melbourne kebanyakan berupa apartment. Rata-rata unit yang kami tempati harga sewanya sekitar $200 per malam dengan lokasi yang cukup strategis di tengah kota.

Ada juga host yang menyediakan fitur instant booking, jadi proses pemesanan ruang bisa dilakukan dengan cepat dan mendadak. Kami tidak bertemu dengan host dan juga tidak terlalu banyak tek-tokan. Ketika check in, kami mengambil kunci yang sudah dititipkan ke resepsionis, ketika check out, kami meletakkan kunci di kotak pos sebelah resepsionis.

IMG_4586-2

Perjalanan Jakarta-Sydney merupakan perjalanan terpanjangku yang menghabiskan sekitar 8 jam di udara, itu tidak termasuk waktu transit di Singapur. Di dalam pesawat, tempat dudukku terpisah dari keluargaku. Tidak banyak kegiatan yang bisa kulakukan, selain makan-nonton-tidur-nonton-makan-tidur, sampai pagi menjelang, kami tiba di Sydney.

Aku mampir ke 3 kota selama perjalananku di Australia, Sydney, Goldcoast, dan Melbourne. Tetapi, aku tidak akan banyak menceritakan perjalananku sewaktu di Goldcoast. Begini lah Sydney dan Melbourne memanjakanku…

Sydney

25 Apr Perjalanan kali ini tidak sefleksibel biasanya karena aku harus membawa keluargaku. Jadi, sebisanya aku mencuri waktu dan mengambil kesempatan me time untuk mengunjungi tempat-tempat favoritku. Salah satu tempat yang wajib aku kunjungi di negara manapun adalah museum modernnya, jadi first thing first setelah aku berpisah dengan keluargaku, aku mampir ke Museum of Contemporary Art Australia.

Kalau aku pribadi sih sebenarnya tidak terlalu mengerti seni, tapi berkunjung ke museum selalu menjadi terapi untukku. Di sana aku mendapatkan banyak inspirasi dan bisa berkenalan dengan tokoh-tokoh aspirasi. Kalau berkunjung ke museum, aku membutuhkan waktu seharian supaya bisa menikmati karya-karya yang luar biasa mindblowing.

“Kalau gak ngerti, anggep aja seni!”

Menariknya Museum of Contemporary Art memiliki giftshop yang lebih menyenangkan daripada museumnya. Jadi sebelum naik ke ruangan pameran, aku nongkrong di sini dulu. Mereka menjual buku, mainan, pajangan, dan sampai produk-produk desain yang sering aku lihat di Pinterest. Walaupun belum bisa membeli barangnya sekarang, tapi dengan melihat dengan nyata, this is such a dream come true!

IMG_4644-2

IMG_4648-2

IMG_4650-2

Kalau di sini, aku bisa dengan mudah menemukan buku referensi untuk crafting, contohnya ‘Sun Shine Space’ dan ‘Make and Do’ oleh Beci Orpin. Beberapa produk unik seperti notebook dengan wooden, gold, dan silver look juga rasanya ingin kukantongi tanpa berpikir panjang. Dan produk desain yang sering aku lihat di Pinterest adalah lilin Pyropet, yang kalau lilinnya dibakar akan menyisakan tulang kerangka hewan peliharaan.

42173859_344109402834578_6800894182090577474_n.jpg

Aku membeli buku HOME WORK by Anna Yudina terbitan Thames & Hudson seharga AU$ 32.

Tidak terasa, ternyata sudah 5 jam aku berkeliling menjelajahi bangunan 4 lantai bangunan ini, walaupun sebagian besar waktunya aku habiskan di giftshop. Setelah ini aku mau mampir ke sebuah area yang artsy yang bernama The Rock.

The Rock adalah kawasan wisata sekaligus area bersejarah pusat kota Sydney. Di sana terdapat galeri, museum, dan toko-toko lain di dalam bangunan-bangunan tua. Banyak di antaranya adalah cafe dan restoran, tapi tidak jarang juga toko pernak-pernik, aksesoris, dan produk-produk buatan tangan.

Setiap beberapa langkah aku berjalan, ada banyak hal yang menyenangkan kemana pun aku melempar pandang. Aku menemukan sebuah galeri kecil bernama The Ken Done Gallery, galeri tunggal milik Ken Done.

IMG_4667-2

IMG_4666-2

IMG_4659-2

Setelah aku keluar dari The Ken Done Gallery, aku menemukan beberapa toko yang menggemaskan. Salah satunya adalah toko kecil DUX Collection yang menjual aromaterapi, sabun, lilin, dan produk-produk perawatan tubuh lainnya dengan tampilan toko yang sangat cantik.

IMG_4654-2

IMG_4656-2

DUX Collection merupakan bisnis kecil yang Anna jalankan bersama kedua orang tuanya. Mereka memproduksi produk-produk untuk dijual di workshop yang terletak di lantai 2 toko itu. Selain itu, mereka juga membuka kelas untuk orang-orang yang ingin belajar tentang proses pembuatannya.

IMG_4655-2

Mataku tertuju pada sebuah mesin tua yang sudah tidak berfungsi lagi. Tadinya fungsi mesin ini adalah untuk menyimpan aroma terapi ke dalam botol. Aku diijinkan memotret ruangan ini karena aku berjanji akan menuliskan tentang DUX Collection pada tulisanku. Thank you Anna, I fulfilled my words!

IMG_4591-2

IMG_4687-2

See you, Sydney! Thank you for treating me well!

Sebenarnya selain tempat yang aku ceritakan sebelumnya, aku juga mengunjungi beberapa tempat tourist attraction seperti Sydney Zoo, Sydney Fish Market, Bondi Beach, Blue Mountain National Park, Harbour Scenic Cruise Tours, Port Stevens Sand Dunes, Wine Tasting & Winery Tours, dan juga Casino over the night. Haduh, dasar orang tuaaaaa hahaha

 

Ceritanya berlanjut di Melbourne #1 ya!

  1. Heattech is Uniqlo high-tech fabric that actually creates heat to warm you up and keep you warm.
Posted by:Evelyn Gasman

Evelyn Gasman (@evelyngasman) adalah kepala dari KROMA Kiosk dan Klass. Orang yang suka kerajinan tangan, entah karena kerajinan, atau emang rajin beneran. Dia selalu senang bekerja di bidang kreatif. Dia merangkum kesukaannya dalam ABCD (art, branding, craft, dan design). Kerjaannya selain berkerajinan adalah mengurusi urusan produksi KROMA Kiosk dan Klass.