Tanggal 30 Juni 2019 adalah hari terakhir kami menempati rumah di Jl. Panglima Polim V. Ini tentang rumah yang akan kami huni di Jl. Dharmawangsa X pada bulan Juli mendatang. Rumah dengan loteng tengah (mezzanine) yang selalu menjadi idaman kami.

Kami sudah menempati rumah Dharmawangsa sejak minggu ketiga bulan Mei. Kami menempati rumah itu dengan membawa semua barang pribadi, beberapa aset KROMA, dan 2 ekor kucing—Kuro dan Shiro.

Kuro
Shiro

Tadinya kami akan memberitakan kabar baik ini ke teman-teman kami dengan niat menjadi kejutan. Ternyata, kejutan memiliki 2 arti yang berbeda, bukan saja berita baik namun bisa saja berita buruk. Kami mengalami sebuah bencana besar yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya dan kali ini terjadi dalam hidup kami.

Aku Evelyn, salah satu orang di balik KROMA dan salah satu orang yang ada di tempat kejadian. Aku akan menceritakan kejadiannya dalam sudut pandangku.

Malam sebelumnya, aku mengadakan reuni di KROMA Panglima Polim dengan beberapa angkatan teman-teman kuliahku termasuk beberapa dosen yang aku undang. Aku bahagia sekali karena akhirnya aku berhasil mengumpulkan teman-teman lama setelah bertahun-tahun tidak bertemu. Malam itu aku mengumumkan bahwa KROMA Panglima Polim akan pindah ke Dharmawangsa pada bulan Juli. Aku juga berharap bahwa pertemuan ini bisa terus diadakan lagi nanti di tahun-tahun berikutnya di rumah baru.

18 Mei 2019 — 16 Jun 2019

Aku pulang ke Dharmawangsa sekitar pukul 00.00. Malam itu aku lelah sekali, tapi entah mengapa, untuk tidur saja aku harus dibantu dengan menonton film. Rasanya aku tidak ingin segera tidur. Pukul 01.45, Edward mengatakan, ada orang yang mencurigakan yang mengintai di depan rumah. Karena ada mobil kami yang diparkir di sana, kami berdua memutuskan untuk mencabut akumulator (accu, aki) tersebut.

Pukul 02.50, aku sudah hampir tertidur. Edward mengagetkan aku dengan mengatakan kepadaku kalau ada sebuah bus antar kota melaju kencang dan menarik kabel PLN yang menjuntai dari tiang listrik seberang rumah ini. Kabelnya terlepas dari tiang listrik dan tarikannya kabel itu melepas beberapa lembar genteng. Listrik terputus seketika. Di saat yang bersamaan, muncul percikan api besar selama beberapa waktu dari tiang listrik tersebut. Edward dan salah satu tukang mengejar bus dengan motor, tapi akhirnya tidak sempat tertangkap. Belum terlihat adanya tanda bahaya lebih lanjut.

Pukul 03.15, kami mengira keadaan baik-baik saja, hanya listrik yang mati total. Edward ingin memanggil petugas PLN untuk menyambungkan listrik kembali. Kami sudah terlalu lelah subuh itu, sembari berjalan ke arah kamar, Edward tetap menelepon petugas PLN. Tadinya kami ingin meminta petugas PLN datang di pagi hari saja, tapi ternyata PLN memiliki layanan 24 jam, jadinya petugas PLN bisa langsung datang ke lokasi sekitar 15 menit kemudian

Pukul 03.30, Edward dan petugas PLN mengecek titik putusnya listrik dari luar tembok gerbang. Tidak lama kemudian, Edward melihat adanya sumber api yang ada di bagian atap dalam rumah dari kejauhan. Edward meminta bantuan petugas PLN untuk memanggil pemadam kebakaran, dari situlah api mulai menjalar perlahan, perlahan, dan penyebarannya mulai cepat melalui atap. Edward dan petugas PLN tidak bisa melakukan pertolongan pertama pada kebakaran karena matinya listrik dan juga pompa air.

Pada tanggal 16 Juni 2019, dini hari, sekitar pukul 03.30, kami menyatakan rumah Dharmawangsa terbakar api.

Edward langsung lari ke lantai 2 menuju kamar dan memperingati aku yang masih berada di kamar untuk menyelamatkan barang berharga. Edward juga membangunkan 2 orang tukang. Di saat itu, aku—yang belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi—membawa laptop dan tablet, 2 anak kucing (bayi Shiro yang baru dilahirkan 5 hari sebelumnya) di dalam keranjang, dan akumulator. Dalam kondisi siaga, aku sempat menangkap Kuro dan Shiro untuk dimasukkan ke dalam kandang. Kuro dan Shiro memberontak, mungkin karena aku sangat panik, ditambah lagi pintu kandang tidak bisa terbuka. Aku ingat betul dalam nalar sadar aku melepas Kuro dan Shiro, dengan harapan setelah aku berhasil menyelamatkan anak kucing dan mobil, aku akan kembali untuk menolong mereka. Ketika aku keluar rumah, aku baru melihat kalau api sudah menyala besar di atap.

Warga-warga sekitar sudah berkumpul, bersiaga, dan membantu kami. Fokus kami adalah untuk memindahkan mobil. Aku harus naik lagi ke kamar karena kunci mobil tertinggal di atas. Untung saja dalam waktu singkat, aku bisa menemukannya. Saat itu, aku tidak lagi melihat kedua kucingku, mungkin mereka mengumpat di suatu tempat—aku tidak tahu.

Akumulator harus segera dipasang supaya mobil bisa menyala kembali. Tuas untuk membuka kap mobil ada di dalam. Aku berkali-kali mencoba untuk membuka pintu namun gagal. Aku menyerahkan kunci mobil kepada Edward, jika masih gagal juga, aku meminta Edward untuk memecahkan kaca mobil. Bahkan saat itu saja, kami sudah hampir merelakan mobil karena titik api sudah semakin mendekat. Khawatir dengan mobil yang meledak, dengan keberanian Edward, Edward mengajak kembali orang-orang di sekitar untuk memindahkan mobil dengan cara didorong.

Aku berencana untuk naik lagi menjemput kucing-kucingku. Asap kebakaran sudah semakin pekat. Aku hanya bisa menutup hidung dan mulutku dengan kerah baju. Aku sempat sesak dan terbatuk-batuk sehingga aku harus keluar lagi untuk mengambil nafas. Ketika aku sudah merasa aku lebih baik, aku memutuskan untuk lari menuju kamar. Kakiku terhenti karena aku berpikir ini adalah hal yang sangat mustahil. Situasi saat itu sangat gelap, aku tidak tahu apa yang terjadi di dalam jika aku tetap memaksa masuk, dan aku teringat kalau Edward sudah membuka pintu jadi aku memprediksi Kuro dan Shiro mungkin saja sudah kabur.

Pukul 03.45, petugas pemadam kebakaran datang. Sayangnya petugas pemadam kebakaran yang datang hanya 1 unit. Aku mengungsi ke rumah tetangga seberang sambil menelepon petugas pemadam kebakaran yang lain dengan tangan gemetar. Berselang 5-10 menit kemudian, 4 unit pemadam kebakaran lain datang. Bangunan di lantai 2 rumah itu sudah hampir habis terlahap api. Aku terus-terusan menangis karena aku meninggalkan dua nyawa kucing tersayang kami di dalam kamar. Ada ex-barista kami yang datang, Kiki namanya, menenangkan aku dalam kepanikan luar biasa itu. Aku menelepon temanku, Yuki dan Yuka, dan juga menelepon Dinar untuk mengabarkan keadaan kami.

Pukul 04.45, api berhasil dipadamkan. Artinya, butuh kurang lebih 1 jam untuk memadamkan api secara keseluruhan. Ada beberapa petugas pemadam kebakaran yang masuk ke dalam rumah untuk mengecek segala kemungkinan yang ada. Ketika matahari terbit, situasi sudah baik-baik saja, petugas pemadam kebakaran pulang kembali ke posnya masing-masing. Edward meminta beberapa orang petugas untuk menemaninya masuk ke dalam rumah dan mengecek ruangan dengan mata kepalanya sendiri. Sementara, aku menunggu di luar. Beberapa waktu kemudian, Edward keluar dengan 1 kata “maaf” dari mulutnya, mengabarkan bahwa Kuro dan Shiro tidak selamat.

Aku lemas tidak berdaya. Adegan ketika aku melepas Kuro dan Shiro dalam dekapanku terulang kembali. Aku ingat dengan jelas dan rekaman itu terus berputar-putar dalam pikiranku. Sangat menyiksa.

Pukul 07.00, aku dan yang lainnya masuk ke dalam rumah. Plafon dan rangka kayu atap beserta pintu dan kusen sudah hangus, lapisan tembok terkelupas, kaca-kaca jendela pecah, dan lantai sudah dipenuhi arang. Tangga yang aku naiki terlihat rapuh tapi masih kokoh, aku berpegang pada tembok-tembok yang masih hangat. Aku melihat barang-barang pribadi kami yang ada di dalam kamar rata tanah habis total terbakar api. Aku mendapatkan satu hal yang sangat tidak aku harapkan—hal yang paling menyakitkan buatku—ketika aku menemukan jasad Kuro dan Shiro, mereka masih ada di sana.

How can I forgive myself?

Posted by:Evelyn Gasman

Evelyn Gasman (@evelyngasman) adalah kepala dari KROMA Kiosk dan Klass. Orang yang suka kerajinan tangan, entah karena kerajinan, atau emang rajin beneran. Dia selalu senang bekerja di bidang kreatif. Dia merangkum kesukaannya dalam ABCD (art, branding, craft, dan design). Kerjaannya selain berkerajinan adalah mengurusi urusan produksi KROMA Kiosk dan Klass.