Hari ini tanggal 23 April 2020, berarti hari ini genap pula 1 bulan kami menutup Rumah Dharmawangsa sejak tanggal 23 Maret 2020 kemarin. Halo, aku Evelyn! Buat kalian yang belum kenal aku, aku salah satu orang yang membangun KROMA, dibantu dengan Edward, kompanyonku.

On the days like these, anxiety comes more often. For an extrovert like me, who get used to be in the crowd, being alone is really torturing. I miss meeting people, chit-chatting, talking shits, and so on.

The outbreak is causing me to break out.

Untuk teman-teman yang mengikuti perjalanan kami sejak 5 tahun lalu dari Gandaria, Panglima Polim, sampai ke Dharmawangsa, pasti tau kerja keras kami berdua membawa KROMA sampai hari ini. Ini merupakan tantangan buat aku yang lulusan desain komunikasi visual dan Edward lulusan arsitektur. But… We learnt by doing and put a whole heart in running KROMA until today.

IMG_1173.jpeg

Sudah 30 hari kegiatan operasional di KROMA diberhentikan. Tapi tentu saja bukan hanya kami yang saja yang merasakan. Sebagai freelancer yang kehilangan projek dan pekerjaan, sebagai office workers yang dibayang-bayang pemecatan, sebagai entrepreneur yang kehilangan sumber pendapatan, boro-boro rencana untuk naik posisi dan ekspansi. Untuk bisa bertahan hidup sampai 2-3 bulan ke depan saja masih dipertanyakan dan diperhitungkan nasibnya. Tidak tau akan sampai kapan, tapi tentu belum ada jawaban.

Aku berusaha menyibukkan diri dengan beberapa kegiatan yang memang biasanya kulakukan sehari-hari. Aku mencoba untuk menggambar lagi, yoga dan meditasi, dan menuangkan pikiranku berupa tulisan ini. Aku terus-terusan berusaha untuk tetap berpikir positif setiap bangun di pagi hari. Yang aku tidak tau, ternyata secara tidak sadar, aku menahan tekanan itu untuk tidak keluar. Mungkin aku masih trauma dengan kegagalan, apalagi dengan kejadian kebakaran.

IMG_1542.jpeg

Selama sebulan ini, aku dan Edward kembali harus turun lagi ke bar untuk menggantikan barista dan membatasi jumlah orang. Seminggu awal karantina, Edward mengalami ketakutan seolah-olah dia bisa memprediksikan kehancuran yang akan datang. Penurunan daya beli, perubahan perilaku, dia memperhitungkan cash flow, skenario A, skenario B, dan kami sudah menyalakan tombol survival mode sampai akhir tahun.

Bukan cuma itu, masih ada berita-berita buruk lainnya yang terus datang membisiki. Berita yang membuat sakit hati, patah hati, dan ujian lain yang datang bertubi-tubi. Ada satu projek kami bersama dengan BUMN diputus kontraknya sampai bulan ini. Dan kemarin, hal yang paling kami takutkan dan menyesakkan hati baru saja terjadi. Kami terpaksa harus memulangkan pegawai-pegawai kami. Jantung kami rasanya seperti ditusuk-tusuk dengan belati. Sedangkan, kami hanya bisa meminta maaf kepada keluarga-keluarga KROMA atas apa yang tengah terjadi.